Melakukan Perjalanan di Muka Bumi
Sebelum Melakukan Perjalanan di Muka Bumi: Belajar Bersiap dari Hal Kecil
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Teman-teman,
Pernahkah kita ingin melihat gunung, sungai, laut, hutan, kota lain, pulau lain, bahkan negeri-negeri yang jauh?
Al-Qur'an mengajarkan kepada kita untuk berjalan di bumi dan memperhatikan ciptaan Allah.
Allah berfirman:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah, berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan. Kemudian Allah akan mengadakan kehidupan yang akhir. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”[1]
Tetapi teman-teman, sebelum kita bisa melakukan perjalanan jauh, kita perlu belajar satu hal penting: mempersiapkan diri untuk berjalan.
1. Perjalanan Besar Dimulai dari Persiapan Kecil
Kita tidak harus langsung naik pesawat atau pergi ke tempat yang sangat jauh.
Latihan bisa dimulai dari rumah.
Misalnya Ayah atau Ibu berkata, “Besok pagi kita akan berjalan mengelilingi lingkungan rumah selama tiga puluh menit.”
Sebelum pergi, kita mulai belajar bertanya:
Ke mana kita akan berjalan?
Berapa lama kita pergi?
Bagaimana cuacanya?
Apakah kita perlu membawa air minum?
Apakah kita membutuhkan topi, payung, atau jas hujan?
Apakah kita akan membawa buku kecil untuk mencatat sesuatu yang menarik?
Dari kegiatan sederhana ini kita belajar bahwa perjalanan sebenarnya dimulai sebelum kaki kita melangkah keluar rumah.
2. Belajar Membawa Bekal
Allah juga mengajarkan pentingnya membawa bekal.
Allah berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“Dan bawalah bekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”[2]
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa dahulu ada orang-orang dari Yaman yang pergi haji tanpa membawa bekal yang cukup. Mereka mengatakan bahwa mereka bertawakal kepada Allah. Ketika sampai di Makkah, mereka akhirnya meminta kepada orang lain. Kemudian Allah memerintahkan agar mereka membawa bekal.[3]
Dari sini kita belajar bahwa tawakal bukan berarti pergi tanpa persiapan.
Kita mempersiapkan apa yang diperlukan, kemudian berserah diri dan meminta pertolongan kepada Allah.
3. Belajar Bertanggung Jawab terhadap Barang Sendiri
Teman-teman,
Kita juga bisa mulai mempunyai tas perjalanan kecil sendiri.
Tidak perlu membawa banyak barang.
Cukup barang yang benar-benar diperlukan, seperti air minum, tisu, buku catatan, pensil, atau perlengkapan lain yang telah disepakati bersama orang tua.
Setelah pulang, coba periksa kembali.
Apa yang tadi berguna?
Apa yang ternyata tidak digunakan?
Apakah ada barang yang seharusnya dibawa tetapi terlupa?
Dengan cara seperti ini, kita belajar memilih barang, menjaga barang sendiri, dan tidak selalu bergantung kepada orang lain.
Kelihatannya kecil, tetapi keterampilan ini akan sangat berguna ketika suatu hari kita melakukan perjalanan yang lebih jauh.
4. Belajar Sedikit Demi Sedikit
Perjalanan dapat dilatih secara bertahap.
Pertama, berjalan di sekitar rumah.
Kemudian berjalan lebih jauh di lingkungan sekitar.
Setelah itu, kita bisa pergi selama satu atau dua jam.
Kemudian mencoba perjalanan setengah hari.
Lalu perjalanan sehari penuh.
Jika sudah terbiasa, keluarga bisa mencoba menginap satu malam.
Setelah itu perjalanan bisa berkembang menjadi antarkota, antarpulau, bahkan suatu hari antarnegara jika Allah memberikan kemampuan dan kesempatan.
Jadi kita tidak perlu terburu-buru.
Sekitar rumah → lingkungan sekitar → perjalanan beberapa jam → perjalanan sehari → menginap → antarkota → antarpulau → antarnegara.
Setiap tingkatan mengajarkan keterampilan baru.
Kita belajar berjalan, membawa bekal, mengatur waktu, menjaga barang, membaca arah, memahami kendaraan, menggunakan uang dengan baik, dan menyesuaikan diri dengan tempat baru.
5. Jangan Hanya Berjalan, Tetapi Perhatikanlah
Teman-teman,
Dalam QS. Al-'Ankabut tadi, setelah Allah berfirman سِيرُوا, “berjalanlah”, Allah melanjutkan dengan فَانْظُرُوا, “maka perhatikanlah”.
Artinya, perjalanan bukan hanya memindahkan tubuh kita dari satu tempat ke tempat lain.
Ketika berjalan, coba lihat daun yang berbeda-beda.
Perhatikan awan.
Lihat aliran air.
Perhatikan tanah, batu, tumbuhan, bukit, sungai, atau keadaan tempat yang kita kunjungi.
Kemudian bertanyalah:
“Mengapa bentuknya seperti ini?”
“Bagaimana ini terjadi?”
“Apa yang bisa kita pelajari dari ciptaan Allah ini?”
Allah juga berfirman:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا
“Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga mereka mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami, atau telinga yang dengannya mereka dapat mendengar?”[4]
Jadi saat berjalan, kaki kita bergerak, mata melihat, telinga mendengar, akal berpikir, dan hati mengambil pelajaran.
6. Kita Juga Menyiapkan Hati
Sebelum keluar rumah, kita bukan hanya menyiapkan tas dan barang.
Kita juga mengingat Allah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan doa ketika keluar rumah:
بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”[5]
Jadi kita melakukan dua hal.
Kita mempersiapkan diri sebaik mungkin, kemudian bertawakal kepada Allah.
7. Kesimpulan
Teman-teman,
Kalau suatu hari kita ingin menjelajah bumi yang luas, kita bisa mulai dari sesuatu yang sangat kecil hari ini.
Belajar menyiapkan barang.
Belajar membawa bekal.
Belajar berjalan dengan tertib.
Belajar menjaga barang sendiri.
Belajar mengatur waktu.
Belajar membaca arah.
Dan yang terpenting, belajar memperhatikan ciptaan Allah serta mengambil pelajaran darinya.
Mungkin hari ini perjalanan kita hanya beberapa ratus meter dari rumah.
Tetapi jika terus belajar dan berlatih, suatu hari kita mungkin dapat melihat gunung, laut, pulau-pulau, kota-kota, dan negeri-negeri yang jauh.
Namun sejauh apa pun kita berjalan, jangan sampai kita hanya bisa berkata:
“Aku pernah datang ke sana.”
Semoga kita dapat berkata:
“Aku melihat ciptaan Allah di sana, mempelajarinya, dan semakin mengetahui betapa besar kekuasaan Allah.”
Semoga Allah menjaga langkah kita dan menjadikan perjalanan kita sebagai perjalanan yang penuh ilmu, rasa syukur, dan manfaat.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
📚 Referensi
- QS. Al-'Ankabut:20 - Perintah berjalan di bumi dan memperhatikan bagaimana penciptaan dimulai. quran.com/29/20.[1]
- QS. Al-Baqarah:197 - Perintah membawa bekal dan penegasan bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa. quran.com/2/197.[2]
- Shahih al-Bukhari No. 1523 - Riwayat Ibnu Abbas tentang orang-orang Yaman yang pergi haji tanpa membawa bekal yang cukup. sunnah.com/bukhari:1523.[3]
- QS. Al-Hajj:46 - Berjalan di bumi agar hati memahami dan telinga mendengar serta mengambil pelajaran. quran.com/22/46.[4]
- Sunan Abi Dawud No. 5095 - Doa ketika keluar rumah: Bismillah, tawakkaltu 'alallah, la haula wa la quwwata illa billah. sunnah.com/abudawud:5095.[5]

Posting Komentar